BeritaLegislatifMurung Raya

Pesan Filosofis Sutrisno, S.T di Momen Lebaran 1447 H, Ini Katanya!

Forumhukum.id – Puruk Cahu – Lebaran Idul Fitri bukan sekadar perayaan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, tetapi menjadi momentum untuk kembali ke fitrah—hati yang bersih, jiwa yang lapang, serta hubungan yang kembali dipulihkan.

Pesan bernuansa filosofis tersebut disampaikan oleh politisi Partai Gerindra, Sutrisno, S.T, yang dikenal sebagai sosok religius dan taat menjalankan ajaran Islam.

Menurutnya, makna kembali ke fitrah adalah upaya menjadikan diri lebih suci. Ia menegaskan bahwa pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan bersih, dan melalui ibadah puasa Ramadan, umat Islam diajak untuk menjaga kemurnian hati serta menjauhi sifat iri, dengki, dan kesombongan. “Jangan biarkan hati yang telah dibersihkan selama Ramadan kembali ternodai oleh kesalahan yang sama,” pesannya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tradisi saling memaafkan saat Lebaran bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk pembebasan jiwa. Memaafkan orang lain juga berarti melepaskan beban dalam diri.

Sutrisno.S.T Anggota Komisi III DPRD Murung Raya dari Praksi Gerindra.

“Maaf bukan tanda kekalahan, melainkan kelapangan hati yang mendekatkan kita kepada Allah,” ujarnya.
Sutrisno yang juga merupakan Anggota Komisi III DPRD Murung Raya menambahkan bahwa hikmah Lebaran harus menjadi cahaya yang terus menerangi kehidupan ke depan.

Ia mengingatkan bahwa tujuan puasa adalah mencapai ketakwaan. Oleh karena itu, Lebaran bukanlah garis akhir, melainkan titik awal untuk menjaga kualitas iman dan amal. “Jika Ramadan adalah latihan, maka Lebaran adalah ujian, apakah kita mampu istiqamah setelahnya,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menekankan pentingnya silaturahmi sebagai bagian dari ibadah sosial. Mengunjungi keluarga, mempererat hubungan, dan memperbaiki yang retak merupakan amalan yang bernilai tinggi. “Silaturahmi bukan hanya menyambung hubungan antar manusia, tetapi juga membuka pintu rahmat dan rezeki,” tegasnya.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya kepedulian dan keadilan sosial melalui zakat fitrah, agar kebahagiaan Lebaran dapat dirasakan oleh semua kalangan tanpa terkecuali.

“Lebaran sejati adalah ketika kebahagiaan tidak hanya kita rasakan sendiri, tetapi juga kita bagikan kepada sesama,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Sutrisno mengingatkan agar masyarakat tidak larut dalam kemeriahan yang berlebihan. Ia menegaskan bahwa esensi utama Lebaran adalah rasa syukur dan kedekatan dengan Allah SWT. “Keindahan Lebaran tidak terletak pada kemeriahan, tetapi pada hati yang penuh syukur dan ikhlas,” tutupnya. (Alb-fh)