BeritaEksekutifMurung Raya

Bupati Heriyus, Menemukan Makna di Sela Waktu: Dari Tugas Negara hingga Hangatnya Kesederhanaan Liburan Bersama Keluarga!

Forumhukum.id – Puruk Cahu, — Di tengah padatnya agenda pemerintahan yang seolah tak pernah berhenti, sosok Bupati Murung Raya, Heriyus, kembali memperlihatkan sisi lain dari kepemimpinannya. Bukan hanya dikenal sebagai figur tegas dalam menjalankan roda pemerintahan, ia juga menunjukkan bahwa seorang pemimpin tetaplah manusia yang membutuhkan ruang untuk kembali menata rasa dan energi.

Momentum libur panjang Idul Fitri 1447 H menjadi potret nyata dari keseimbangan tersebut. Di sela tanggung jawab besar yang diemban, Heriyus memilih sejenak menjauh dari rutinitas formal, untuk kembali pada hal paling mendasar: keluarga.

Ia menghabiskan waktu liburan lebaran bersama keluarga besar di kampung halaman sang istri di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Jauh dari protokoler dan hiruk pikuk birokrasi, suasana desa yang tenang dan asri justru menghadirkan keteduhan yang sulit ditemukan di tengah aktivitas pemerintahan sehari-hari.

Dalam balutan kesederhanaan, Heriyus menikmati momen kebersamaan tanpa sekat jabatan. Tidak ada formalitas, yang ada hanyalah kehangatan keluarga, canda tawa, serta silaturahmi yang mengalir hangat dan tulus.

“Waktu bersama keluarga adalah sumber energi baru. Dari sana saya kembali dengan semangat yang lebih kuat untuk melayani masyarakat,” ungkap Heriyus.
Ia juga menegaskan bahwa makna liburan tidak selalu identik dengan kemewahan. Menurutnya, kebahagiaan justru sering ditemukan dalam hal-hal sederhana.

“Memanfaatkan waktu libur bersama keluarga tidak perlu harus ke tempat yang bernuansa modern dan membutuhkan biaya mahal. Berlibur ke pedesaan justru menghadirkan suasana yang lebih indah dan sejuk, dengan panorama alam yang asri dan menenangkan,” tuturnya.

Bagi Heriyus, pilihan untuk kembali ke kampung halaman (isteri) bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sebuah refleksi nilai. Kesederhanaan menjadi ruang untuk menenangkan pikiran, memperkuat ikatan emosional, sekaligus mengingat kembali esensi kehidupan yang kerap tertutupi oleh padatnya tanggung jawab sebagai kepala daerah.
Sebagai pemimpin, Heriyus dihadapkan pada berbagai persoalan strategis, mulai dari pembangunan daerah hingga optimalisasi pelayanan publik.

Namun ia menyadari, kepemimpinan yang kuat tidak hanya dibangun dari kerja keras, tetapi juga dari kejernihan berpikir dan ketahanan emosional—dua hal yang lahir dari keseimbangan hidup.

Momen kebersamaan tersebut pun menjadi ruang refleksi yang berharga. Dari kesunyian desa dan hangatnya keluarga, ia kembali menemukan makna kepemimpinan yang berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.

Apa yang dilakukan Heriyus sekaligus menjadi pesan sederhana namun penting bagi masyarakat luas: bahwa di tengah tekanan pekerjaan, menjaga harmoni antara tanggung jawab dan kehidupan pribadi adalah sebuah kebutuhan, bukan pilihan.
Sebab dari keseimbangan itulah lahir energi baru, perspektif yang lebih jernih, serta keputusan-keputusan yang lebih bijaksana.

Dengan cara yang sederhana namun bermakna, Heriyus membuktikan bahwa kepemimpinan tidak harus menjauh dari sisi kemanusiaan. Justru dari hangatnya keluarga dan ketenangan kampung halaman, ia kembali menguatkan diri untuk melanjutkan pengabdian kepada masyarakat Murung Raya dengan semangat yang lebih utuh dan hati yang lebih jernih. (Alb-fh)