
Bukan Sekedar Seremonial, 7 KAIH di Basarang Didorong Jadi Kebiasaan Anak Sehari – hari
KUALA KAPUAS, Forum Hukum. id – Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) mulai digaungkan di Kecamatan Basarang, Kabupaten Kapuas. Dinas Pendidikan Kabupaten Kapuas mendorong gerakan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi pembiasaan sehari-hari di lingkungan satuan pendidikan.
Pencanangan dilakukan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kapuas, H. Suwarno Muriyat, di Korwil Bidang Pendidikan (Korbidik) Kecamatan Basarang, Kamis (24/9). Kegiatan ini melibatkan peserta didik dari jenjang TK, SD, SMP hingga SMA, serta dihadiri Korwil Bidang Pendidikan Basarang Gatin, Camat Basarang Harun Rasyid, dan perwakilan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kapuas, H. Istanto.
Nuansa keberagaman dan budaya lokal langsung terasa sejak kedatangan Kadisdik Kapuas. Suwarno disambut dengan pengalungan bunga, tari Dayak Ngaju, serta tari Bali Panjali yang dibawakan secara kolaboratif oleh peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan.
Bukan sekadar penyambutan, pertunjukan tersebut menjadi gambaran bagaimana sekolah dapat menjadi ruang untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya sekaligus membangun karakter peserta didik.
Peserta didik dan pendidik kemudian menampilkan sejumlah kegiatan bernuansa keagamaan, mulai dari mengaji, pengkajian Alkitab hingga pembacaan Sloka. Rangkaian kegiatan juga diisi dengan doa lintas agama yang memperlihatkan semangat toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman di lingkungan pendidikan.
Suwarno mengatakan, implementasi 7 KAIH harus diwujudkan melalui kebiasaan nyata yang melekat dalam keseharian anak. “Kita ingin anak-anak Basarang tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, berakhlak, menghargai keberagaman, sekaligus mencintai budaya daerahnya. Agama menguatkan moral, budaya menguatkan identitas, dan pendidikan menyatukan keduanya dalam kehidupan anak,” ujarnya.
Menurut Suwarno, implementasi 7 KAIH di Basarang sejalan dengan 7 Program Prioritas Pendidikan Hebat Kapuas Bersinar (PHKB), terutama penguatan karakter dan akhlak peserta didik, peningkatan literasi dan numerasi serta nilai religius, hingga pengembangan sekolah yang ramah anak dan inklusif.
Ia menekankan, pendidikan karakter tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kearifan lokal. Karena itu, pencanangan 7 KAIH di Basarang juga dirangkai dengan pengenalan dan revitalisasi masakan khas Dayak Ngaju. “Masakan khas daerah jangan sampai hanya menjadi cerita dari generasi terdahulu. Anak-anak harus mengenal, mencintai dan mampu melestarikannya. Ini bagian dari pendidikan berbasis kearifan lokal,” tambahnya.
Dukungan terhadap gerakan tersebut juga disampaikan Korwil Bidang Pendidikan Basarang, Gatin. Ia berharap 7 KAIH dapat diterapkan secara konsisten di seluruh satuan pendidikan, dengan melibatkan sekolah, keluarga dan masyarakat.
Apresiasi serupa disampaikan Camat Basarang Harun Rasyid dan H. Istanto yang mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kapuas. Keduanya mengapresiasi penguatan nilai-nilai keagamaan di sekolah yang dilakukan dalam suasana kebersamaan, toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan peninjauan berbagai sajian kuliner lokal. Momen tersebut sekaligus mempertegas pesan utama pencanangan 7 KAIH di Basarang: pendidikan tidak hanya membentuk anak menjadi cerdas secara akademik, tetapi juga membangun karakter, memperkuat nilai keagamaan, serta menanamkan kecintaan terhadap budaya dan kearifan lokal.
Gerakan 7 KAIH pun diharapkan menjadi bagian dari keseharian peserta didik di Basarang, sehingga nilai agama, karakter, toleransi dan budaya tidak sekadar dipelajari di sekolah, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan dalam kehidupan mereka.(Tatang FH)
